Gerakan Boikot Berhasil, Israel Ketar-Ketir Takut Bangkrut

Gerakan Boikot Berhasil, Israel Ketar-Ketir Takut Bangkrut

Lebanese and Palestinian students burn a copy of the Israeli flag during a solidarity rally with the Palestinians of the Gaza Strip, in Martyrs' Square in the coastal city of Sidon, in southern Lebanon on October 26, 2023, amid the ongoing battles between Israel and the Palestinian group Hamas. Thousands of civilians, both Palestinians and Israelis, have died since October 7, 2023, after Palestinian Hamas militants based in the Gaza Strip entered southern Israel in an unprecedented attack triggering a war declared by Israel on Hamas with retaliatory bombings on Gaza. (Photo by Mahmoud ZAYYAT / AFP)Memanasnya konflik Hamas-Israel memantik gerakan boikot terhadap produk Israel. Boikot atau secara garis besar disebut gerakan BDS (Boikot, Divestasi, dan Sanksi) bertujuan untuk menekan Israel di ranah ekonomi-politik supaya pendudukan di Palestina bisa berakhir.

Gerakan ini kemudian mendapat https://pengempulkas138.store/ atensi luas di seluruh dunia karena dianggap satu-satunya cara mudah untuk melawan Israel. Lantas, apakah gerakan ini efektif?

Sejak pertama kali diluncurkan pada 2005 gerakan BDS tak langsung membuat Israel dan Amerika Serikat (AS) sebagai sekutu setia merana. Pada awalnya, mereka tak melihat propaganda itu sebagai ancaman.

Sayangnya, ketika suasana adem terjadi, propaganda BDS bak bola salju yang meluncur ke bawah dari gunung.

Perlahan tapi pasti, menurut Ellen Cannon dalam “The BDS and Anti-BDS Campaigns” (Jewish Political Studies Review, 2019), BDS sukses menjadi alat perlawanan terbaik yang mampu menjelek-jelekkan, mendelegitimasi dan mencela Israel, Zionisme, Yahudi dan AS.

“Gerakan BDS telah berhasil menembus perbincangan politik global dan sukses menggambar Israel dan para pendukungnya sebagai negara yang layak mendapat delegitimasi dan isolasi di panggung dunia. Meskipun itu semua tak mengakibatkan pembentukan Palestina atau perbaikan nyata terhadap warga sipil,” tulis Ellen Cannon.

Di banyak negara, propaganda BDS mendapat perhatian khusus. Sudah banyak gerakan BDS lokal, termasuk di Indonesia, yang terafiliasi dengan BDS pusat. Dalam laman resminya, BDS mengklaim sudah banyak negara, kelompok atau individu ternama yang turun tangan memboikot Israel.

Di Kuwait, misalkan, pemerintah secara resmi memboikot 50 produk yang berkaitan dengan pendudukan Israel di Palestina. Atau saat pemerintah Chile membekukan kerjasama dagang wujud penindasan di Jalur Gaza.

Lalu di Australia, mengutip The New Arab, pada 6 Januari 2022, televisi Australia memberi tempat khusus bagi gerakan BDS dan propaganda pro-Palestina dengan menayangkan wawancara eksklusif bersama aktivis Palestina pro-BDS, yakni Jennine Khalik. Tayangan tersebut lantas mendapat atensi besar masyarakat dan sukses memojokkan Israel.

Beranjak dari kasus seperti inilah, menurut analis politik Dov Waxman menyebut Israel mulai merasa bahwa gerakan BDS adalah ancaman yang harus diperhitungkan.

“BDS dilihat sebagai ancaman nyata bagi legitimasi dan pendirian Israel di tingkat global. Jika ini dibiarkan, maka akan menghancurkan Israel,” kata Dov, dikutip dari Al Jazeera.

Alhasil, tak ingin ancaman tersebut menjadi bom waktu yang bisa membuat bangkrut, Negara Yahudi itu bergegas melancarkan proyek anti-BDS sejak 2010, alias 5 tahun setelah peluncuran perdana BDS.

Mengutip Al Jazeera, tujuan utama anti-BDS adalah untuk melakukan delegitimasi BDS yang bakal menyebar propaganda secara masif supaya menggagalkan propaganda BDS. Tentunya ini dilakukan dengan menggelontorkan dana besar.

Setidaknya, ada dua cara yang dilakukan pemerintah Israel.

Pertama, propaganda melalui media.

Dalam kasus yang terjadi di Australia pada 2022 silam, misalkan, pemerintah Israel langsung mengirim dana US$ 30 juta atau Rp 477 miliar untuk mendanai kampanye global melawan BDS.

Ketika sampai di Australia dana itu dipergunakan untuk konser bernama Sydney Festival. Nantinya konser akan diisi oleh musisi pro-Israel yang di dalamnya tak cuma menampilkan pertunjukan musik, tetapi juga menyebar kebaikan soal Israel. Meskipun, saat pelaksanaan konser tersebut juga diboikot oleh aktivis anti-Israel.

Selain lewat konser, dana itu juga digunakan untuk propaganda melalui produk jurnalistik. Pemerintah melakukan kerjasama dengan media skala nasional dan global untuk memperbaiki citra Israel.

Laporan media Israel +972, mencatat cara ini sudah dipakai sejak Juni 2017 saat pemerintah secara resmi mengeluarkan dana fantastis senilai US$ 2 juta atau Rp 31 miliar. Nantinya dana itu bakal dialirkan ke perusahaan media skala nasional dan global yang berbasis di Israel, Timur Tengah, atau Amerika Serikat.

Kelak, mereka bakal merilis konten informasi yang menyerang Palestina dan mengangkat nama baik Israel. Dana tersebut juga bakal dipergunakan untuk membayar iklan propaganda anti-BDS yang tersebar di media sosial ternama dunia.

Lalu, cara kedua adalah lewat lobi-lobi politik ke berbagai negara. Barangkali, upaya ini yang cukup membuahkan hasil.

Mengacu pada riset Ellen Cannon, Amerika Serikat menjadi negara yang paling menerima propaganda anti-BDS. Diketahui, pemerintah federal dan mayoritas negara bagian secara resmi telah menentang gerakan BDS.

Mereka beralasan gerakan yang didirikan oleh Omar Barghouti ini menyebarkan sikap anti-Semitisme, politik kebencian, ketakutan dan intimidasi. Terlebih selama muncul gerakan BDS mulai banyak orang yang bersikap anti-Semit. Atas dasar inilah otoritas terkait bakal menindak tegas gerakan BDS.

Tak cuma AS, di Jerman juga berlaku hal demikian. Kota Munchen dan Frankfurt jadi salah dua kota yang mengeluarkan aturan pemboikotan produk Israel karena dianggap menyebarkan paham anti-Semit.

Siapa yang Menang di ‘Perang’ Propaganda Ini?

Sejauh ini kedua pihak menyatakan kemenangannya.

Menurut Steven A. Cook di Foreign Policy, gerakan BDS sudah dinyatakan kalah dan gagal. Steven menyebut aktivis BDS telah salah strategi karena lebih banyak menyebar propaganda di kampus-kampus ternama.

“Masalahnya, resolusi BDS yang disebarkan di kampus tak banyak mengubah pandangan dunia soal Israel yang merupakan pemain geopolitik dan ekonomi penting. Produk Israel masih tetap disukai dan berkembang pesat,” katanya.

Sedangkan, aktivis Palestina Rihab Charida menyatakan, upaya propaganda balasan anti-BDS tak memiliki dampak besar. Sebab, dana pajak warga Israel yang mengalir buat kepentingan citra semata masih kalah besar dengan masifnya persebaran tayangan yang tersebar ke seluruh dunia soal penindasan di Palestina.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*